Meniti Jalan Menuju Jannah Firdaus-Nya

Jumat, 09 Desember 2016

HUKUM MERAYAKAN HARI IBU

         Tanggal 22 desember merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh para anak diseluruh indonesia terkhususnya, untuk merayakan peluapkan rasa cinta dan sayangnya terhadap sesosok wanita yang telah melahirkannya kedunia, maka apakah boleh, mengkususkan perayaan peluapan rasa cinta dan sayang kepada ibu yang telah melahirkannya (hari ibu) dan bagaimanakah sebenarnya hukum merayakan hari ibu .....
Rasa cinta terhadap kedua orang tua merupakan akhlak yang sangat terpuji, apalagi ketika mampu menyenangkan hati keduanya dengan cara memberikan hal yang disenanginya. Maka dalam hal ini, bukan termasuk perbuatan yang salah akan tetapi ketika mengkhususkan pemberian tersebut tepat pada hari ibu dan sekaligus merayakannya maka inilah yang salah.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin menjelaskan dalam kitabnya Majmu’ fatawa, bahwasanya setiap hari raya yang menyelisihi hari raya syar’i dan tidak dikenal di zaman para salafush sholih adalah bid’ah, bahkan bisa jadi hari raya tersebut barasal dari orang-orang kafir, yang mengakibatkan kita terjerumus kedalam kebid’ahan dan tasyabuh (menyerupai) musuh-musuh Allah .
Hari raya syar’i yang dikenal dikalangan umat islam adalah, hari raya idhul fitri, idhul adha dan termasuk juga hari raya umat islam yaitu ketika umat islam melaksanakan sholat jum’at pada tiap pekannya, maka apabila seseoarang melaksanakan hari raya diluar hari raya yang tiga ini maka ia termasuk orang yang membuat hal-hal yang baru dalam perkara islam dan bathil menurut syari’at Allah  berdasarkan sabda Rosulullah :
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌ
“Barangsiapa yang mengadakan perkara-perkara yang baru dalam urusan ini (islam) yang tidak bersumber darinya, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muttafaqun’alaihi)
Dalam riwayat lain berbunyi:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ
“ Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan dari urusanku (islam), maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muttafaqun’alaihi)
Berdasarkan penjelasan syaikh Abdullah Muhammaad bin Utsaimin, yamg beliau paparkan beserta dalil-dalil yang jelas keshohihannya, jelas bahwasanya perayaan hari ibu itu dilarang, termasuk didalamnya merayakan dan penyerahan hadiah dan lain sebagainya, karena termasuk perkara baru yang tidak dicontohkan sebelumnya oleh ulama salaf kita.
Dan ketahuilah wahai saudariku, hak seorang ibu lebih besar daripada sekedar disambut sehari dalam setahun, bahkan seorang ibu mempunyai hak yang harus dipenuhi oleh anak-anaknya, yaitu dengan mendo’akannya, serta mentaatinya dalam hal-hal yang bukan termasuk dalam kemaksiatan kepada Allah . Wallahua’lam bis showab


Referensi:

  •          Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Majmu’ fatawa, jilid 2, hlm. 300-301
  •      Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrohim Al-Mughiroh Al-Bukhori, Shohih Bukhori, jilid 2, hlm.186


0

0 komentar:

Posting Komentar